9 Years on, Bali Bombing Memories Remain

The Jakarta Globe


Family and friends of about one hundred victims of the 2002 Bali bombings gathered in Denpasar on Wednesday to pay their respects on the ninth anniversary of the attacks.

The service, which was conducted in the garden of the Australian consulate, opened with the singing of the Australian and Indonesian national anthems.

“We gather here nine years on from 12 Oct. 2002 to remember the victims of the bombings, which affected so many innocent people from Indonesia, from Australia and from the near and far corners of the earth,” said Greg Moriarty, Australian ambassador for Indonesia.

“We gather to remember the families and loved ones of those who died and those whose lives were changed forever by the terrifying events of that day.”

The three bombs — two detonated in or near popular nightclubs and one set off outside the US consulate — left 202 dead and another 240 injured.

Wendy Grezl, the mother-in-law of victim John Juniardi, said she still lived with the painful memories.

“John Juniardi left two sons,” she said. “The bad memory remains forever. I come here every year to commemorate it.”

Elsewhere on the island, in Gianyar, an organization called Garppar distributed thousands of stickers bearing a message of anti-terrorism.

“Let us unite to prevent terrorism,” said Ngakan Made Rai, head of Garppar. “We have started this anti-terrorism campaign since three years ago.”

In Jakarta, the Indonesian Terrorism Bombing Victims Association (Askobi) also campaigned against violence at the Hotel Indonesia traffic circle.

“I once met terrorists,” Askobi member Tony Soemarno said. “I told them not to repeat their act, but they told me that they could not control it because there are many others who were ready to act.”

Antara

David Tobing: Rapat Pencurian Pulsa Tidak Membahas Sanksi

Beritasatu.com


“Pertemuan tadi hanya membahas koordinasi saja, tetapi tidak mencari titik temu apakah ada pelanggaran atau tidak. Bagaimana bisa berkoordinasi antara pelaku kejahataan dengan regulator?” tanya David.

Pertemuan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dengan berbagai stake holders dalam membahas kasus pencurian pulsa dinilai mengecewakan karena tidak membahas sanksi tegas terhadap content provider atau operator nakal.

David Tobing, pengacara Mochammad Feri Kuntoro, mengatakan hasil rapat tersebut adalah pemaksaan kehendak dari Kominfo dan operator seluler terhadap konsumen.

“Saya tidak ikut konferensi pers karena jangan sampai diklaim seakan-akan hadir untuk mewakili konsumen dan menyetujui langkah kemenkominfo. Sedangkan tidak ada sanksi tegas bagi para pencuri pulsa seperti memutuskan semua perjanjian dengan content provider yang bermasalah,” kata David.

Dalam rapat tersebut, kata David, Kominfo justru akan berkoordinasi dengan para pihak yang salah satunya terindikasi melakukan pencurian pulsa.

“Pertemuan tadi hanya membahas koordinasi saja, tetapi tidak mencari titik temu apakah ada pelanggaran atau tidak. Bagaimana bisa berkoordinasi antara pelaku kejahataan dengan regulator?” tanya David.

Selain itu, David menambahkan salah satu hasil rapat tersebut adalah membentuk tim untuk menyelidiki praktek pencurian pulsa.

Tim tersebut hanya terdiri atas unsur Kementrian Komunikasi dan Informatika saja tanpa melibatkan unsur dari luar.

Feri melaporkan PT Colibri Network ke polisi dengan tuduhan pencurian pulsa.

Namun Feri justru dilaporkan balik oleh PT Colibri Network dengan tuduhan pencemaran nama baik

22 Radio Jakarta Terancam Masuk Kategori Liar

Beritasatu.com


Jika masih ditemukan radio mengudara saat jatuh tempo IPP, maka dikategorikan radio liar.

22 radio swasta di Jakarta terancam menjadi radio liar karena belum memperpanjang Izin Penyelenggaran Penyiaran (IPP) jelang batas akhir masa berlakunya. Ke-38 radio tersebut terancam dilaporkan ke Badan Monitor Frekuensi Radio apabila

“Kami menghibau pada radio-radio yang belum mengajukan perpanjangan izin agar segera mengurus kelengkapannya,” kata Ketua KPID DKI Jakarta, Hamdani Masil, dalam konferensi pers di Jakarta, hari ini.

Sesuai Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No 28/P/M.Kominfo/09/2008 tentang Tata Cara dan Persyaratan Perizinan Penyelenggaraan Penyiaran, IPP Radio berlaku selama lima tahun dan dapat diperpanjang.

Data Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) DKI Jakarta, menyebutkan, total radio swasta di Jakarta mencapai 43 radio. dari total jumlah tersebut, sebanyak 38 radio IPP-nya akan habis pada bulan Oktober dan Desember pada tahun ini. Sedangkan dua radio swasta habis masa izinnya pada 2012, dua lainnya 2014 dan satu radio pada 2015.

Hingga kini, tegas Hamdani, sebagian besar radio swasta tersebut belum mengajukan proposal perpanjangan IPP, sehingga mereka terancam tidak mengantongi perpanjangan izin ketika masa IPP habis. KPID DKI Jakarta baru menerima 16 proposal. Keenambelas proposal tersebut diantaranya Sonora, I Radio, Sindo Radio, El-Shinta Radio, Indika FM Cosmopolitan, Hardrock FM, A Radio, Radio Dangdut TPI, Trax FM dan Kiss FM.

KPID Jakarta lanjut dia, telah mengirim surat peringatan sekaligus mendatangi sejumlah radio swasta yang habis masa izinya. Sayangnya, sejumlah radio swasta merasa tidak perlu memperpanjang IPP karena telah siaran cukup lama.

Anggota KPID DKI Jakarta bidang Isi Siaran, Akuat Supriyanto, mengatakan radio yang tidak mengajukan proposal perpanjangan IPP Radio saat jatuh tempo akan dilaporkan ke Badan Monitor Frekuensi Radio di bawah Direktorat Jendral Pos dan Telekomunikasi, Kementerian Informasi dan Telekomunikasi. “Mereka yang tidak memperpanjang IPP dan tetap siaran akan dianggap radio liar,” kata dia.

50 Cent Puji Kecantikan Perempuan Indonesia

Beritasatu.com


Kericuhan kecil sempat terjadi

Rapper asal Amerika Serikat, 50 Cent, tampaknya jatuh cinta dengan perempuan Indonesia. Setelah menggelar konser di Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu malam (8/10) ia mengungkapkan perasaanya itu akun Twitter resminya @50 Cent.

Man Indonesia has some of the most beautiAful women I have ever seen in my life. I looked in the crowed and said good God all mighty LMAO SK,” tulis rapper bernama asli Curtis James Jackson III.

Dalam konser perdananya di Indonesia itu 50 Cent membuka penampilannya dengan lagu berjudul The Invitation. Ia juga melantunkan Gangsta,Do You Think About Me?, Candy Shop, P.I.M.P, dan In Da Club.

Kericuhan kecil sempat terjadi dalam konser yang dibuka oleh DJ Cream itu ketika penonton berebut jacket yang dilemparkan 50 Cents.

Di penghujung acara penyanyi yang juga memiliki dapur rekaman G-Unit Records itu mengajak empat anak untuk berdansa bersamanya di atas panggung dan menyanyikan lagu In Da Club sebagai lagu penutup.

Untuk pertunjuk 50 Cent Sabtu malam lalu, tiket 50 Cent dijual dengan harga Rp 800.000,00 untuk kelas festival, Rp 1.500.000,00 untuk Front Row dan Rp 2.000.000 untuk kelas VIP.

SBY Holds Talks Ahead of Possible Reshuffle

The Jakarta Globe


Arientha Primanita, Agus Triyono, Elisabeth Oktofani


President Susilo Bambang Yudhoyono summoned Vice President Boediono and several of his ministers to his home in Cikeas, Bogor, on Thursday as talk of a cabinet reshuffle intensifies.

“President SBY and Vice President Boediono are conducting marathon, intensive and private talks” throughout the week, said Daniel Sparringa, a member of the presidential special staff. “The president doesn’t want this to become a political discussion. We’re not trying to cover anything up, we just want to avoid any unnecessary controversies.”

Boediono arrived at the president’s private residence at 4 p.m. on Thursday. He was joined by State Secretary Sudi Silalahi and Cabinet Secretary Dipo Alam.

Julian Aldrin Pasha, a presidential spokesman, declined to offer details about Thursday’s meeting. All he would say is that “the president wishes to discuss the future of his administration.”

Yudhoyono has previously hinted that a reshuffle could coincide with the second anniversary of the cabinet’s formation later this month.

Kuntoro Mangkusubroto, head of the Presidential Working Unit for Development, Supervision and Oversight (UKP4), said on Thursday that an evaluation of the ministries and government agencies would be forwarded to the president next week.

He said the final report was still being completed, but the results might influence any cabinet reshuffle.

Bambang Adhyaksa, from the Indonesian Chamber of Commerce and Industry (Kadin), told a discussion on Thursday that 80 percent of the cabinet needed to be replaced.

“The ministers have neither the vision nor the capability to run the country,” Bambang said.

He said Kadin had recently met with ministers to discuss the economy. “A clear example of their incompetence is that they didn’t follow up on the recommendations of the meeting,” he said.

The Jakarta Legal Aid Foundation (LBH Jakarta) said Yudhoyono must remove ministers who had committed human rights violations.

LBH Jakarta has named 14 such ministers and agency heads. They include Religious Affairs Minister Suryadharma Ali, who it said had failed to protect religious minorities, and Communications Minister Tifatul Sembiring, whom the foundation criticized for curbing freedom of expression by enforcing the controversial Electronic Transactions and Information (ITE) Law.

Other ministers seen as ripe for removal include Manpower Minister Muhaimin Iskandar, criticized for his soft stance on labor and migrant worker issues, and Justice Minister Patrialis Akbar, who is said to have made little progress on human rights.

Menteri KIB II Dinilai Banyak yang Melanggar HAM

Beritasatu.com


LBH Jakarta sebut nama mulai dari M Nuh, Suryadharma, hingga Muhaimin dan lain-lain.

LBH Jakarta mencatat ada 14 menteri dan pejabat setingkat menteri yang memiliki potret buram dalam penegakan hak asasi manusia (HAM). Para menetri itu dinilai harus menjadi bahan evaluasi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjelang perombakan kabinet.

Nurkholis Hidayat, Direktur LBH Jakarta, mengatakan bahwa lebih dari selusin menteri dan pejabat setingkat menteri, memiliki potret buram dalam penegakan HAM. Termasuk dalam hal hak sipil politik dan hak ekonomi sosial-budaya.

“Suryadharma Ali, Menteri Agama misalnya. Dia telah melanggar hak sipil politik dengan mengkampanyekan sikap permusuhan terhadap kelompok minoritas keagamaan, yang tampak dalam pernyataan-pernyataan yang dikeluarkannya, termasuk berkaitan dengan kasus Cikeusik yang justru memojokkan Ahmadiyah,” kata Nurkholis, Kamis (6/10).

“Bahkan sebagai seorang politisi, dia paling lantang dalam menyuarakan pembubaran Ahmadiyah dalam kampanye 2009 lalu,” ujar Nurkholis.

Selain itu, LBH Jakarta juga mencatat bahwa Gamawan Fauzi telah melakukan pelanggaran HAM berkaitan dengan hak sipil politik. Antara lain dengan merestui dan menyetujui peraturan daerah, juga keputusan atau peraturan kepala daerah yang melanggar HAM dan diskriminatif seperti Pergub Larangan Ahmadiyah.

“Sebagai Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi telah memaksakan pembahasan RUU Ormas yang berwatak represif pada kebebasan berserikat dan berkumpul, yang mana ini cukup berbahaya bagi rakyat sipil,” kata Nurkholis.

Nurkholis juga menyebutkan nama Djoko Kirmanto, Menteri Pekerjaan Umum, yang dinilai telah melakukan pelanggaran HAM berkaitan dengan kasus privatisasi air di Jakarta. Lebih jauh, Ki Agus Ahmad, salah satu pengacara publik dari LBH Jakarta, menyebutkan pula nama Jumhur Hidayat, Ketua BNP2TKI, yang dianggap telah gagal dalam memberikan perlindungan bagi TKI, termasuk berkaitan dengan kasus hukum pancung Ruyati.

“Jumhur telah gagal melindungi TKI, sebab tidak memiliki skema advokasi yang jelas untuk melindungi TKI,” imbuhnya.

Agus juga menyebutkan nama Menkominfo Tifatul Sembiring, yang dinilai telah melanggar HAM dengan mendorong pengesahan Undang-Undang Anti Pornografi yang subtansinya dianggap banyak melanggar hak perempuan dan insan seni dan budaya. “Selain mendorong UU Anti Pornografi, Tifatul juga telah mendorong UU ITE yang mengatur penyadapan, dan mengancam hak privasi serta kebebasan berekspresi, di mana mengakibatkan adanya kriminalisasi berdasarkan UU ITE. Bahkan sudah ada beberapa korban,” ungkapnya.

Selain Suryadharma, Gamawan, Jumhur dan Tifatul, LBH Jakarta juga menyebutkan nama Menakertrans Muhaimin Iskandar, Menkumham Patrialis Akbar, Menteri BUMN Mustafa Abubakar, serta Mendiknas Muhammad Nuh. Juga ada nama Jaksa Agung Basrief Arief, Menhan Purnomo Yusgiantoro, Menkes Endang Rahayu, serta Menhut Zulfiki Hasan.

Agus menyatakan bahwa penilaian ini dibuat berdasarkan laporan yang masuk ke LBH Jakarta, serta kasus yang mereka advokasi selama ini. “Di antara mereka, (ada yang) menjadi tergugat langsung di pengadilan. Seperti Muhammad Nuh, Menteri Pendidikan, berkaitan dengan pembangkangan putusan MA soal Ujian Nasional yang melanggar hak anak dan menutup akses atas kelanjutan pendidikan,” jelas Nurkholis.

50 juta Anak tanpa Akta, Halangi Akses Pendidikan

Beritasatu.com

50 juta Anak tanpa Akta, Halangi Akses Pendidikan

Data di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA), 50juta dari 78 juta anak Indonesia yang berusia di bawah 18 tahun tidak memilikiakte kelahiran.

Mayong, pengacara publik dari LBH Jakarta, di Jakarta, Kamis (5/10) mengatakan bahwatingginya jumlah anak tanpa akta dapat mengakibatkan adanya dampak negatif bagianak tersebut seperti stigma negatif dari masyarakat atau tidak memiliki akses pendidikan.

Data yang dikuatkan oleh hasil penelitian Survei SosialEkonomi Nasional (Susenas) menyatakan bahwa sejak tahun 2007 ada 11.700.000anak usia di bawah lima tahun belum memiliki akta kelahiran.

“Anak yang tidak memiliki akta kelahiran akandianggap sebagai anak di luar nikah, di mana di Indonesiamemiliki label negatif,” kata Mayong dalam sebuah diskusi di kantor LBH Jakarta. “Selain itu,anak tersebut akan kesulitan mendapatkan akses pendidikan serta akses terhadaphak ekonomi sosial dan budaya mereka di masa depan karena tidak memiliki aktakelahiran.”

Maria Ulfa Anshor, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, mengatakan aktakelahiran bersifat universal sebab hal ini terkait dengan pengakuan negara atasstatus keperdataan seseorang. “Dari perspektif hak asasi manusia, aktakelahiran merupakan hak dasar setiap anak yakni merupakan hak atas pengakuansah terhadap keberadaannya, di mana hal ini terkait dengan aspek proteksiberlangsungnya tumbuh kembang anak dalam setiap fase perkembangan,”ungkapnya.

50 Million Minors Lack Birth Certificates

The Jakarta Globe


More than 60 percent of Indonesian minors do not have a birth certificate, depriving them of a range of civic services, including enrolling at school.

Mayong, a lawyer with the Jakarta Legal Aid Foundation (LBH Jakarta), said 50 million of the 78 million Indonesians under the age of 18 did not have a birth certificate, based on data from the Women’s Empowerment and Child Protection Ministry.

“A child without a birth certificate is commonly perceived as being born outside wedlock, which in Indonesian society carries with it negative stigma,” he said at a discussion on the issue on Thursday.

“Besides that, the child will also encounter difficulty getting access to education, as well as to other socioeconomic and cultural rights once they get older.”

A birth certificate is required for a child to be enrolled in school, get a passport and, upon turning 17, apply for an ID card, or KTP. As an adult, they will also need a birth certificate to get a marriage license and apply for jobs as civil servants or with state-owned companies.

Maria Ulfa Anshor, the chairwoman of the Indonesian Commission for Child Protection (KPAI), said receiving a birth certificate should be a universal right because of its fundamental importance.

“From a human rights perspective, a birth certificate should be a basic right for all children because it represents the sole legal confirmation of their existence,” she said.

Under the 2006 Residency Administration Law, parents have 60 days from the birth of their child in which to apply for a birth certificate. Once the period has expired, the parents must apply through a district court and pay a fine of up to Rp 1 million ($112).

Maria said most parents were unaware of the time limit, while others were discouraged from applying because of the illegal fees levied by population services officials.

Purba Hutapea, the head of the Jakarta population office, said another factor for the low number of applications was the fact that few of those submitted had the required supporting documentation.

“This includes the proof of birth from the hospital where the child was born and the parents’ marriage certificate,” he said.

“They’re really very simple requirements, but many people still fail to comply with them.”

The Jakarta population office kicked off a campaign on Monday, set to run until the end of the year, to allow parents of children born as far back as 2007 to apply for a birth certificate without having to go through the courts or pay the fine.

Separately, administrative law expert Irman Putra Sidin, from Hassanuddin University in Makassar, said the government needed to do more to encourage parents to apply for birth certificates for their children.

“The government can’t just stay silent and expect people to take the initiative on issues like this,” he said.

He argued that because most Indonesians had a low level of education, they were unlikely to know about the terms for applying for the document or the disadvantages of not having it.

Police Pay Dearly for Miss Universe Visit

The Jakarta Globe

Miss Universe 2011 Leila Lopes has walked straight into a controversy while visiting Indonesia after she was reportedly offered an exorbitant sum from a West Java Police group for her attendance at an event.

Lopes, who is visiting to crown the new Miss Indonesia on Friday evening, is expected to be a VIP guest at a charity night held by the West Java branch of Bhayangkari, the Association of the Wives of Policemen, next Tuesday.

Local media reported that the West Java Bhayangkari had raised Rp 750 million ($84,000), including from contributions levied from police officers, to enable the Angolan beauty to attend the event.

Police expert Bambang Widodo Umar urged National Police Chief Gen. Timur Pradopo to summon West Java Police Chief Insp. Gen. Putut Bayusenot over the scandal.

“The National Police Chief or the chairwoman of Bhayangkari should correct the West Java Police chief or his wife and show them how best to celebrate an anniversary,” said Bambang, a lecturer at the National Police University and a former official at the National Police Commission, a law enforcement watchdog.

“It would be better to donate the money to orphans, to use it to help low-ranking police officers or help children go to school. Sometimes they don’t even have enough money to pay the rent on their house,” Bambang said.

Bambang said that it was inappropriate to invite a Miss Universe because she was not a figure related to law enforcement. “If they want to invite a public figure, they should invite a security figure than beauty figure.” Bambang said.

Neta S. Pane, chairman of Indonesian Police Watch, said the source of Rp 750 million funding needed to be clarified. It is also not clear how much money, if any, was paid to Ms Lopes.

“It is fine to invite Miss Universe to a Bhayangkari anniversary celebration as long as the funding is coming from a sponsor,” Neta said.

“It can create a positive image for the National Police and she can learn about our Indonesian police, especially in West Java.”

“But if the funding is related to corruption or bribe allegations, then it needs to be investigated by KPK,” he added, referring to the Corruption Eradication Commission. It was ironic, Neta said, that police officers would spend millions of rupiah on a celebration while low-ranking police officers were so poorly paid.

West Java police spokesman Sr. Comr. Agus Rianto said that Lopes has been planning to visit Bandung and that the West Java Bhayangkari group was making use of that opportunity.

“The West Java Police did not have a role in inviting Miss Universe,” Agus told the Jakarta Globe on Tuesday.

The appearance was reportedly made possible with the cooperation of Yayasan Puteri Indonesia — the organizer of Miss Indonesia and the franchise holder of all Miss Universe’s activities in the country — and an event organizer, Viseta Global Utama.

Viseta provides public relations and speaker training and is run by Coreta El Kapoyos, its Web site said. Coreta is Putut’s wife.

Viseta spokeswoman Megi Theresia was quoted on the Indonesian Police Commission’s Web site as rejecting allegations the money came from police coffers.

“The money came from the [event organizer], from the sponsors. We didn’t ask for money from police officials,” Megi said.

“We invited Miss Universe because she is in Indonesia so it couldn’t hurt if she comes to Bandung to attend the charity night.”

Peserta INAICTA Meningkat 20 Persen

Beritasatu.com


Peserta robotic meningkat tiga kali lipat, kategori robot aplikatif empat kali lipat.

Ajang penghargaan akbar berskala nasional di bidang komunitas teknologi informasi dan komunikasi 2011 disambut antusias. Hal ini setidaknya terbukti dengan meningkatnya jumlah peserta sebesar 20 persen dari tahun lalu.

“INAICTA mendapatkan dukungan yang cukup luas dari komunitas,” kata Kamalludin Ramli, penanggungjawab Tim Indonesia ICT Award 2011, hari ini (4/10).

Kamalludin menjelaskan, INAICTA (Indonesian Information and Communication Technology Award) diselenggarakan dengan latar belakang untuk mendorong potensi dan kreativitas anak bangsa di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Tujuannya, agar mampu menghasilkan produk dan jasa TIK yang berkualitas, serta berdaya saing dan nilai jual (untuk) ke pasar domestik, regional dan internasional.

Dalam penyampaian laporan pertanggungjawabannya, Kamalludin pun mengatakan bahwa INAICTA diikuti oleh 1.768 peserta dengan 752 buah karya inovasi. Artinya, terdapat peningkatan peserta sebanyak 20 persen, dibanding tahun 2010 lalu dengan 1.375 peserta.

“Untuk peserta robotic, ada 219 peserta. Terdapat peningkatan peserta sebanyak tiga kali dibandingkan tahun lalu di mana peserta robotic sebanyak 70 peserta saja,” ungkap Kamaluddin.

“Yang juga menarik adalah peningkatan (kategori) robot aplikatif, di mana terdapat 26 peserta. Meningkat empat kali lipat dari tahun lalu yang hanya diikuti 6 peserta,” lanjutnya.

Kamalludin menambahkankan bahwa peningkatan kualitas karya, juga dapat dirasakan pada dua bidang, yakni digital animation dan digital audio. Sementara untuk business matching program, Kamalludin mengatakan bahwa terdapat 65 orang yang mengikuti program yang diseleksi oleh enam perusahaan pemodal tersebut, di mana hari ini akan dipilih 33 peserta calon teknopreneurs.

“Mudah-mudahan antusiasme ini bisa terjaga terus. Seperti yang diharapkan oleh pemerintah, semoga acara ini setelahnya dapat menghasilkan teknopreneurs baru, muda dan tangguh, yang dapat bertahan di medan persaingan bisnis di masa mendatang,” kata Kamaluddin.