Komnas HAM Bentuk Tim Khusus Investigasi Papua

Beritasatu.com


Tim tersebut nantinya akan melakukan investigasi, penyelidikan dan evaluasi yang dapat dilakukan dengan memanggil pihak-pihak yang terkait.”

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) akan memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Indonesia soal pemulihan keamanan di Papua. “Pemulihan keamanan merupakan hal yang paling utama untuk ditegakkan, sehingga dapat mencegah kejadian yang lebih berat,” kata Wakil Ketua Komnas HAM Nur Kholis di Jakarta, Senin (24/10).

Untuk itu, ungkapnya, Komnas HAM segera berkoordinasi dengan Polri maupun Polda Papua. Tak hanya itu, Komnas HAM juga akan membentuk tim khusus untuk Papua yang akan bekerja selama tiga bulan.

“Tim Khusus untuk Papua akan memiliki kewenangan yang lebih luas, sehingga dapat mempercepat kinerja kami dalam mengungkapkan fakta. Apalagi, mereka bisa masuk ke dalam,” tutur dia.

“Tim tersebut nantinya akan melakukan investigasi, penyelidikan dan evaluasi yang dapat dilakukan dengan memanggil pihak-pihak yang terkait.” lanjutnya.

Menurut dia, hasil investigas di Papua juga akan disampaikan kepada masyarakat sebagai bentuk tanggung jawab publik.

Situasi di Papua semakin tak menentu. Bahkan, hari ini, sejumlah warga Papua yang tinggal di wilayah PT. Freeport Indonesia mendatangi kantor Komnas HAM untuk mengadukan keresahan mereka atas rasa tidak aman pascabentrok antara aparat keamanan dan karyawan PTFI, beberapa waktu lalu.

“Saya sudah bekerja di PT. Freeport Indonesia di tambang bawah tanah dan dulu selalu merasa aman. Namun sejak 2009, saya merasa terancam dan tidak merdeka untuk tinggal di negara saya,” kata Sammy Rumbiak, salah satu wakil warga Papua yang mendatangi kantor Komnas HAM di Jakarta.

“Sampai kapan kami harus merasa tidak aman di tempat kami sendiri padahal saya warga negara Indonesia? Apalagi saya selalu dikawal ke mana-mana oleh orang bersenjata,” imbuh Sammy.

Sammy menuturkan, sejak terjadinya peristiwa penembakan pada 2009, tidak ada satu kasus pun yang diungkap. Itu menyebabkan adanya kecemasan di tengah masyarakat.

“Kami ingin agar presiden SBY turun tangan langsung dan melihat apa yang terjadi sebab kami telah hidup di tengah terror dalam tiga tahun terakhir ini,” kata Debby.

Warga Sekitar Freeport Kekurangan Suplai Logistik

Beritasatu.com


Warga hanya dapat membeli suplai makanan dalam jumlah terbatas karena supermarket hanya memiliki suplai yang terbatas pula.

Warga Papua di wilayah PT Freeport Indonesia mengalami kekurangan pasokan logistik dan obat-obatan akibat aksi pemblokiran jalan pascabentrokan antara aparat kepolisian dengan karyawan Freeport.

Aksi pemblokiran dilakukan di Mil 27 samping Bandara Mozes Kilangin Timika, sejak hari ini, setelah terjadi bentrok antar aparat kepolisian dan karyawan Freeport yang mengakibatkan tewasnya Petrus Ayamseba, karyawan PTFI.

“Pemblokiran jalan tersebut memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap kami termasuk terbatasnya pasokan logistik,” kata Sholikin, juru bicara wakil warga Papua dalam kunjungannya ke kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) bersama dengan sejumlah wakil warga Papua, hari ini, untuk menyampaikan pernyataan warga PT. Freeport Indonesia.

“Hal ini sangat mempengaruhi kehidupan karyawan PTFI dan masyarakat setempat karena akses distribusi logistik hanya melalui PTFI, sedangkan jalannya sendiri diblokir,” kata Sholikin.

Orpa Padwa, 45, wakil warga Kuala Kencana, mengatakan bahwa warga hanya dapat membeli suplai makanan dalam jumlah terbatas karena supermarket hanya memiliki suplai yang terbatas pula.

“Kami, ibu-ibu, hanya dapat menangis dan tidak dapat berbuat apa-apa. Sedangkan anak-anak kami terpaksa tidak dapat bersekolah karena kami merasa ketakutan. ” tutur Orpa mengadukan keprihatinannya dalam tangis.

“Saya mohon agar kasus ini dapat segera diselesaikan apalagi mengingat bahwa kami ingin merayakan Natal secara damai,” kata Orpa.

Warga Sekitar Freeport Minta Jaminan Keselamatan

Beritasatu.com


“Kami menuntut segera dilakukannya tindakan nyata, tegas dan adil dari pemerintah Republik Indonesia…”

Warga Papua yang tinggal di wilayah PT Freeport Indonesia (PTFI) menuntut jaminan keamanan dan keselamatan hidup kepada Pemerintah RI, pasca terjadinya serangkaian tindakan teror di wilayah tersebut.

Sekitar 18 orang wakil warga Papua yang tinggal di Tembagapura, Kuala Kencana dan Timika, mendatangi kantor Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM) di Jakarta, Senin (24/10) siang, untuk meminta bantuan percepatan proses penyelesaian masalah Papua.

Oktavianus Kalilago, warga Kuala Kencana, mengatakan bahwa warga sangat menyesalkan adanya serangkaian tindakan teror yang telah merampas hak atas penghidupan, kebebasan dan keselamatan.

“Kami menuntut segera dilakukannya tindakan nyata, tegas dan adil dari pemerintah Republik Indonesia, untuk melindungi seluruh warga yang tinggal di wilayah kerja PTFI, agar kami terbebas dari rasa takut terhadap ancaman kekerasan, teror dan perbuatan lain yang merendahkan harkat dan martabat manusia,” kata Oktavianus, membacakan pernyataan warga.

“Kami juga menuntut kejelasan dan pengungkapan seluruh kasus tindakan teror yang telah terjadi selama ini di wilayah kami, dan (meminta) segera menindak tegas pelakunya sesuai dengan hukum yang berlaku,” tambahnya.

Lebih lanjut, Oktavinus juga mengatakan bahwa warga menginginkan adanya jaminan keselamatan hidup bagi masyarakat, sehingga dapat menjalani kehidupan yang aman, tentram dan damai di Indonesia.

Aktivis Kecam Australia Soal Penahanan 70 Remaja Indonesia

Beritasatu.com


Anak-anak Indonesia diperlakukan tidak adil. Mereka ditahan antara 1-15 tahun di dalam penjara dewasa.

Kelompok Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yang terdiri dari YLBHI, LBH Jakarta, KIARA dan HRGW melakukan aksi diam di Depan Kedutaan Besar Australia, Jakarta, Senin (24/10). Aksi itu untuk mengecam Pemerintah Australia yang menahan sekitar 70 anak Indonesia di bawah 18 tahun.

“Aksi diam yang kami lakukan merupakan aksi solidaritas terhadap penahanan lebih kurang 70 anak Indonesia yang dituduh sebagai sindikat penyelundupan manusia lintas negara,” kata Direktur Advokasi dan Kampanye, Abdul Kadir Wokanubun.

Menurut dia, anak-anak Indonesia diperlakukan tidak adil. Mereka harus melalui proses pemeriksaan gigi dan sinar x pada pergelangan untuk menentukan usia mereka. Tak hanya itu, para remaja Indonesia juga ditahan antara 1-15 tahun di dalam penjara dewasa.

“Kami berharap, aksi diam ini dapat memberikan tekanan pada pemerintah Indonesia dan Australia untuk melakukan upaya diplomasi yang tegas. Sehingga, mereka tidak ditahan di penjara dewasa,” tutur Kadir.

Selain itu, lanjut Kadir, pihaknya juga mendesak Presiden susilo Bambang Yudhoyono untuk memberikan bantuan hukum. Serta melibatkan keluarga anak-anak tersebut dalam proses pembebasan dan pemulangnya ke Indonesia.

“Kami telah berupaya menghubungi pihak-pihak terkait, seperti KBRI. Namun kami belum mendapatkan tanggapan,” jelasnya

Food Running Out as Freeport Mine Conflict Continues

The Jakarta Globe


Papuans living near the giant Grasberg mine operated by United States mining giant Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc say they are running out of food and medicine as Indonesian security forces maintain their blockade of the road leading to the mine.

Unknown gunmen killed three people in three separate attacks near the mine on Friday. Freeport has blamed strikers for several earlier incidents, including a clash with police that left two people dead and an alleged attack on a mine pipeline. Most of the mine’s unionized workers have taken part in the strike, which began on Sept. 15.

Sholikin, speaking at the National Commission of Human Rights (Komnas Ham) in Jakarta on Monday, said the blockade had “severely impacted” on the local population.

Orpa Padwa, 45, a resident of Kuala Kencana in Mimika district, said food was running out.

“We mothers can only cry and cannot do anything else,” Orpa said as she wept. “The children cannot go to schools because we are afraid.”

She said she hoped the problems could be resolved as soon as possible “because we want to celebrate Christmas peacefully.”

Pengelola Bantah Candi Borobudur Tidak Terawat

Beritasatu.com

Sebagian candi Borobudur sempat ditutup untuk dibersihkan dari sisa abu vulkanik Gunung Merapi.

Balai Konservasi Peninggalan Borobudur (BKPB) membantah isu bahwa Candi Borobudur terancam akan dicoret dari daftar warisan budaya dunia oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Culture Organization) karena kotor dan tidak terawat.

Kepala BKPB Marsis Sutopo mengatakan pada beritasatu, Minggu (23/10), bahwa pihaknya tidak pernah menerima teguran maupun rekomendasi dari UNESCO atas kondisi Candi Borobudur yang dikabarkan tidak terawat.

“Kami melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap Candi Borobudur setiap tahun. Hasil evaluasi tersebut selalu kami jadikan sebagai bahan untuk membuat laporan tahunan yang kami kirimkan ke sidang UNESCO,” tutur Marsis.

“Dari laporan terakhir yang kami kirimkan ke sidang UNESCO di Paris pada Februari 2011, kami tidak mendapatkan teguran atau rekomendasi dari UNESCO akan keadaan Candi Borobudur yang tidak terawat,” tambahnya.

Lebih lanjut, Marsis menjelaskan bahwa Balai Konservasi Peninggalan Borobudur baru membuka kembali lantai delapan, sembilan, dan sepuluh untuk wisatawan pada 22 September lalu.

Sebelumnya, ketiga lantai tersebut ditutup untuk proses pembersihan abu vulkanik yang menempel pada batuan candi dari erupsi Gunung Merapi pada Oktober 2010 lalu.

“Erupsi Gunung Merapi pada Oktober tahun lalu telah mengakibatkan abu vulkanik masuk ke rongga stupa dan batu candi yang dapat mengakibatkan rusaknya batu-batuan candi,” kata Marsis.

“Apalagi mengingat bahwa abu vulkanik memilik sifat asam. Oleh karena itu, rongga stupa dan batu candi harus dibersihkan agar dapat dikunjungi,” tambahnya.

Marsis juga menerangkan bahwa UNESCO membantu membersihkan candi dengan memberdayakan masyarakat setempat dengan petunjuk dari Balai Konservasi Borobudur selama membersihkan Candi Borobudur dari abu vulkanik Gunung Merapi.

“Kami masih perlu membersihkan dan memperbaiki lantai tiga, empat, dan lima karena terjadinya kebocoran lapisan kedap air di beberapa dinding candi yang dapat mengakibatkan adanya pelapukan bantuan candi,” katanya.”Kami berharap semuanya dapat diselesaikan pada akhir November mendatang.”

Marsis menambahkan bahwa setidaknya negara mengalokasikan APBN sebesar Rp1 milliar untuk melakukan monitoring dan perawatan Candi Borobudur.

‘Treatment Like Beasts’ Not Uncommon in Papua, Local Priest Says

The Jakarta Globe

Agus Triyono, Banjir Ambarita & Elisabeth Oktofani

The violent crackdown on a pro-independence rally earlier this week that left six people dead is indicative of the government’s continued treatment of indigenous Papuans as no more than animals, an activist said on Friday.

Socratez Sofyan Yoman, a prominent priest from the restive province, said the security forces’ brutal actions came as no surprise because it was “something that we experience on a daily basis.”

“This republic truly treats us like beasts,” he said at the Jakarta headquarters of the National Commission for Human Rights (Komnas HAM).

Socratez called on the government to end its policy of repression against the Papuan people and instead engage in serious dialogue.

“If the government is serious about resolving the conflict, it must hold a dialogue with Papuans, both those in Papua and abroad, and invite international third-party observers because this problem has an international dimension,” he said.

“We have long asked the government to stop using violence in Papua, but it has never responded. To this day, many of our people continue to be hunted down and killed. I support the president, but I’m disappointed in him.”

Socratez spoke in response to the discovery on Wednesday of six dead bodies of participants from Tuesday’s Papuan People’s Congress, a rally held in a field in Padang Bulan, Abepura district, that was violently broken up by security forces. Ifdhal Kasim, the Komnas HAM chairman, said the rights body would immediately dispatch an investigation team to Abepura to probe the violence and the deaths of the participants, whose bodies were found behind the district military headquarters.

“We’ll try our best to have the team there by next week to look into everything, including the events leading up to the congress,” he said.

In the provincial capital, Jayapura, Acting Governor Syamsul Rivai said what made the congress the target of a crackdown was that it was “questioning the Unitary State of the Republic of Indonesia,” known as NKRI.

“If people want to gather and express their views, that’s fine, just don’t undermine the NKRI, infringe on the prevailing laws or attempt to set up a state within a state,” he said.

“If that happens, there will be severe consequences.”

He attributed the deaths of the activists to “excesses in the handling of the case” by security forces. “It’s something that we didn’t want but happened anyway because of the situation on the ground,” Syamsul said.

Papua Police Chief Insp. Gen. Bigman Lumban Tobing also blamed the demonstrators for getting out of hand.

“We were tolerant with them. We allowed them to hold their congress without a permit, but the next thing you know they’re hoisting the Morning Star flag and trying to establish their own country,” he said.

The flag, a symbol of the long-running separatist struggle in Papua, is banned. Raising it is considered treason and thus brings with it a lengthy prison sentence.

Bigman brushed off allegations that the six people killed had been shot by police, saying there was no evidence so far to prove the claims.

“If they really were shot, prove to us that it was the police who did it. We will process them accordingly,” he said.

In Jakarta on Thursday, a discussion of the issue by a group of prominent pro-Jakarta Papuans also laid the blame for the violence on the demonstrators.

Heemskercke Bonay, a Papuan women’s rights advocate, said previous iterations of the Papuan People’s Congress had also “sacrificed many of our people.”

“That’s why I call on the Papuan people not to be provoked by the issue of an independence referendum for Papua,” she said.

Ramses Ohee, the head of the Papuan chapter of the nationalist militia group Barisan Merah Putih, said: “We reject outright the results of the congress that call for secession from the NKRI and the declaration of a Papuan state.”

However, he conceded that the government in Jakarta was guilty of blaming the local populace over signs of unrest when it should be addressing the issue through dialogue.

Anti-Separatist Activists Say Rally Organizers ‘Sacrificed’ Papuans

The Jakarta Globe


Following Wednesday’s violent government crackdown on a peaceful pro-independence rally in Jayapura, some pro-Indonesian Papuan activists are saying the rally’s true purpose was a cynical push by its organizers for personal political gain.

“The Papuan Congress has sacrificed a lot of Papuan people, therefore, I am asking the people of Papua not to let themselves be provoked by the referendum [independence] issue,” said Heemskercke Bonay, an activist from West Papua in Jakarta.

“The referendum issue declared in the congress was pushed by elites [in the Papuan Customary Council] who claimed that it was on behalf of the people,” Heemskercke said.

He was referring to the reading of a Papuan declaration of independence at Wednesday’s gathering. That act, along with the raising of the separatist Morning Star flag, prompted police and military forces to attempt to disperse the large gathering by firing shots and beating and arresting dozens of people.

Six people have been confirmed killed in the aftermath of the rally. Military and police spokesmen have denied responsibility for the deaths.

Ramses Ohee, the Papuan chairman of the pro-Indonesia Red and White Troops (BMP), said his organization rejected the calls for a separate Papuan state.

“We firmly refuse the calls for an independent Papua declared during the congress,” he said.

Ramses admitted that there were many problems that the central government needed to address in the province, especially regarding development and local politics, but that separation from Indonesia was not the answer.

Mahasiswa Nilai Reshuffle hanya Kepentingan Koalisi

Beritasatu.com


Mahasiswa nilai reshuffle kabinet hanyalah untuk kepentingan koalisi saja.

Mahasiswa se-Indonesia menilai bahwa reshuffle Kabinet Bersatu II dilakukan oleh Presiden SBY bukan untuk mewujudkan kepentingan masyarakat melainkan untuk kepentingan politiknya.

Muhammad Sayyidi, Presiden BEM Universitas Padjajaran Bandung, mengatakan pada beritasatu, Kamis (20/10), reshuffle Kabinet Bersatu II dilakukan hanya untuk meningkatkan kestabilitasan negara semata.

“Reshuffle kabinet yang dilakukan oleh presiden SBY lebih mengacu pada kepentingan partai politik dan koalisinya saja dan bukan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat,” terangnya.

“Selama tidak ada kepemimpinan yang kuat dari Presiden SBY dan Wakil Presiden Boediono, maka sesering apapun mereka melakukan reshuffle menteri belum tentu mampu untuk meningkatkan kinerja pemerintahan SBY-Boediono dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” kata Luthfi Hamzah Huzein, Presiden BEM KM Universitas Gadjah Mada Yogyakarta di sela aksi mahasiswa turun ke jalan di Jakarta.

Lutfi menambahkan bahwa pemerintah perlu meningat bahwa pemerintah jangan menganggap remeh suara mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat. Apalagi mengingat gerakan mahasiswa memiliki pengaruh yang besar dalam mewujudkan demokrasi di Indonesia.

“Pemerintah tidak dapat sewenang-wenang dalam menggunakan kekuasan mereka dalam memimpin negara. Oleh karena itu, kami mahasiswa tidak akan pernah lelah melakukan pengawalan terhadap kinerja pemerintah agar dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat,” kata Sayyidi.

Students Protest Against ‘Poor’ Government

The Jakarta Globe

Students Protest Against ‘Poor’ Government

More than 500 students marched to the National Monument, near the State Palace, on Thursday to denounce the leadership of the president and vice president.

The students, protesting under the banner of the Alliance of Indonesian University Student Councils, said Susilo Bambang Yudhoyono and his deputy, Boediono, had failed the country.

Muhammad Sayyidi, president of the student council at Padjadjaran University in Bandung, said they wanted the administration to live up to its promises to improve the life of the nation.

“After two years of the Yudhoyono-Boediono government, we rate its performance as poor,” he said. “It has failed to improve prosperity or uphold the law.”

He also said students were angry that education standards had not been improved.

The “nine-year compulsory study” program had proven unsuccessful, he said, and students were waiting for the government’s next move.

The student demonstration, which began early in the day, included theatrical twists such as pocong (ghosts), caskets and headstones marked “education,” “health” and “law enforcement.”

Students said the symbols were intended to suggest that Indonesia was in mourning for the failed Yudhoyono-Boediono government.

The students also said the government was dragging its feet on providing social security. Elisabeth Oktofani