Pemerintah Bantah Gugat New7Wonders

Beritasatu.com


Sudah putus hubungan sejak bulan Agustus lalu.

Pemerintah Indonesia tidak akan menggugat Yayasan New7Wonders pemilihan Taman Nasional Komodo sebagai salah satu New7Wonders of Nature.

“Kami tidak akan menggugat New7Wonders karena kami sudah memutuskan hubungan dengan mereka sejak bulan Agustus yang lalu,” Kata Todung Mulya Lubis, penasihat hukum Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pada beritasatu.com, hari ini.

Pernyataan ini disampaikan untuk membantah berita yang menyebutkan pemerintah akan menggugat secara hukum New7Wonders.

“Meski demikian, kami memang telah memilih law firm di Zurich untuk memberikan opini dan update terbaru berkaitan dengan yayasan New7Wonders dan bukan untuk menggugat yayasan tersebut,” tuturnya.

“Lagipula, kami menunjukkan proses penunjukkan law firm tersebut telah berlangsung sejak lama,” imbuh Todung.

I Gusti Ngurah Putra, Kepala Pusat Informasi dan Humas (Kopusformas) memaparkan, Indonesia bukanlah negara satu-satunya yang mengundurkan diri dari kegiatan yang diadakan New7Wonders.

Pemerintah Maldives telah mengundurkan terlebih dahulu sejak bulan Mei 2011 karena alasan serupa.

“Pemerintah Indonesia memutuskan untuk mengundurkan diri dari kegiatan yang diadakan oleh Yayasan New7Wonders karena kami tidak melihat adanya kredibilitas yang dapat dipertangungjawabkan oleh yayasan tersebut,” tutur Putra.

“Mereka tidak konsisten dan tidak transparan dalam segi keterbukaan informasi mengenai jumlah suara yang diperoleh masing-masing finalis,” katanya.

“Selain itu, alamat yayasan New7Wonders di Zurich pun tidak benar,” kata Putra.

Lebih lanjut, Putra mengatakan, meskipun pemerintah Indonesia telah mengundurkan dari kegiatan kampanye yang dilakukan oleh yayasan New7Wonders sejak 15 Agustus lalu, pemerintah Indonesia tidak mengabaikan keberadaan komodo.

“Pemerintah telah berkomitmen untuk mengembangkan dan mempromosikan Taman Nasional Komodo sebagai konservasi dan destinasi pariwisata internasional di Indonesia,” ujar Putra.

“Bahkan, hingga hari ini, kami masih melakukan promosi destinasi Taman Nasional Komodo dengan tema Real Wonder of The World,” tambahnya.

“Selain itu, jika ada yang ingin melakukan promosi atau kampanye berkaitan dengan Taman Nasional Komodo, kami tidak akan dan tidak berhak untuk melarang.”

Sebelumnya, Jero Wacik, mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, mengungkapkan meskipun Taman Nasional Komodo telah mengundurkan diri dari kampanye pemilihan tujuh keajaiban alam-baru (N7WN) versi yayasan New 7 Wonders, namun Taman Nasional Komodo telah ditetapkan sebagai World Heritage oleh UNESCO pada tahun 1991.

SPSI Dukung Perjuangan Buruh Freeport

Beritasatu.com


Keluarga besar Federasi Serikat Pekerja Kimia, Energi dan Pertambangan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia FSP KEP SPSI mendukung penuh perjuangan pekerja di Freeport.

Federasi Serikat Pekerja Kimia, Energi dan Pertambangan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP KEP SPSI) mendukung perjuangan buruh PT. Freeport Indonesia yang memperjuangkan perbaikan kesejahteraan karyawan.

“Kami keluarga besar FSP KEP SPSI mendukung penuh perjuangan kawan-kawan pekerja di PT. Freeport Indonesia yang berjuang untuk perbaikan kesejahteraan dengan upah yang layak dan adil,” kata Subiyanto, Sekretaris Umum FSP KEP SPSI, di Jakarta hari ini.

“Selain itu, kami juga mendukung perjuangan mereka untuk mendapatkan perlakuan yang bermartabat dari manajemen PT. Freeport Indonesia,” tambahnya.

Subiyanto menyatakan bahwa FSP KEP SPSI meminta agar pemerintah Indonesia berupaya untuk menyelesaikan mogok kerja di PT. Freeport Indonesia melalui perundingan antar perusahaan dan buruh sehingga dapat membangun hubungan yang harmonis antara kedua belah pihak.

“Kami meminta agar pemerintah Republik Indonesia sebagai pemegang kekuasaan negara dan kedaulatan rakyat agar secepatnya mengupayakan penyelesain mogok kerja dengan mendorong kedua belah pihak untuk melakukan perundingan yang konstruktif dan didasari itikad baik,” kata Subiyanto.

“Hal ini guna untuk membangun komitmen pelaksaan hubungan industrial yang harmonis, dinamis, adil dan bermartabat.”

SBY Tries Lyrical Leadership Once More

The Jakarta Globe

SBY Tries Lyrical Leadership Once More

In a nation plagued by seeds of disintegration — as hard-line radicals spread intolerance and separatist clashes dominate news out of the archipelago’s east — there is only so much that policy prescriptions can do.


Perhaps realizing these limits, Indonesia’s uniter in chief has boldly cried for “Harmoni,” (“Harmony”) the title of President Susilo Bambang Yudhoyono’s fourth album, released on Monday.

“The president is sending his message across through songs, so the public won’t get bored,” said Energy Minister Jero Wacik after the album’s launch in Central Jakarta.

“Indonesians don’t respond well to speeches. People are getting tired of speeches.”

The president wrote all eight songs on the album and like his previous records, “Harmoni” features some of the nation’s well respected singers, such as pop legends Rafika Duri and Harvey Malaiholo, and up-and-coming stars Sandy Sandoro, Afghan, Rio Febrian and Joy Tobing.

“[Harmony] is the pinnacle of all aspirations, expectations, and dreams of every leader. In one way or another, a leader always aspires to create a harmonious social order for the people,” Yudhoyono wrote in the album’s foreword.

“The harmony I expressed in this album is not just that among humans, but also among nations and most importantly, the harmonious relationship between mankind and the universe.”

Jero said there is nothing wrong with the president’s penchant for lyricism. “The president writes songs in his spare time, so it’s OK for him to write once in a while. He is writing them for the people,” the minister said.

“You need to understand that by writing songs, he is doing his [presidential] work, although he doesn’t do this everyday.”

There is no telling whether Yudhoyono’s latest endeavor will enjoy the same moderate success as his third album, “Ku Yakin Sampai di Sana” (“I’m Certain I’ll Get There”). He released his first album, “Rinduku Padamu” (“I Miss You”) in 2007, followed by “Evolusi” (“Evolution”) in 2009 .